Senin, 17 Maret 2014

Sanja, Terima Kasih Telah Menginspirasi Kami

Diposting pada label:

Sanja di tengah kesehariannya.
LANGIT Serang mulai temaram ketika saya dan tim Dompet Dhuafa Banten menginjakkan kaki di Pasar Rau dalam rangka meninjau rencana pembangunan rumah baca untuk pemulung. Belasan bocah menyambut kedatangan kami, beberapa di antaranya berseru, “Woooiii... ada yang datang!”.

“Wih, ada yang datang ke rongsokan,” seru yang lain. Retina saya menangkap seorang di antara mereka, yang memimpin teman-temannyan untuk bergantian menyalami kami.

Belakangan saya tahu, bocah itu bernama Sanja. Ya, hanya Sanja, kolaborasi lima huruf pas itu diberikan oleh orangtuanya 14 tahun silam. Sanja sesederhana namanya. Sanja kecil adalah siswa kelas 2 Sekolah Menengah Pertama yang terbiasa dengan “rongsokan” setiap hari. Bukan kenapa, Sanja adalah salah satu pemulung yang menggantungkan cita-citanya pada kardus dan gelas plastik bekas di Pasar Rau, Serang.

Masih segar di ingatan saya, kala pertama saya bertemu sosok santun penuh mimpi ini. Senja itu Sanja tak mengenakan baju, dan itu sudah biasa di lapak tempat Sanja dan kawan-kawan menukarkan rongsokan yang mereka kumpulkan dengan beberapa lembar rupiah. Lama saya tertegun, begitu menyaksikan tubuh kecil Sanja telaten mengangkat rongsokan ke atas timbangan, sesekali dia menarik ujung celananya yang melorot—membenarkan ikatan tali rafia yang dia gunakan agar celananya tetap menempel pada pinggang.

Jepret... jepret!!! Kamera tim Dompet Dhuafa Banten membidik aktivitas Sanja dan mengabadikan beberapa momen. Layaknya anak seusianya, Sanja pun pandai berekspresi ketika tahu dia tengah difoto.

Sanja namanya. Sanja yang senja itu saya temui dan sempat bertanya tentang mimpinya.

“Mau jadi dokter,” lirihnya, nyaris tak terdengar. Sanja memiliki harapan dan impian. Saban hari usai sekolah, Sanja si anak bangsa yang terabaikan, tanpa malu telah sigap menenteng karung goni dan pengait besi untuk mengumpulkan gelas-gelas plastik dan kardus bekas.

Ketika goninya telah penuh, seperti senja itu, Sanja dan kawan-kawannya berkumpul di lapak milik Ibu Nia. Ya, lapak. Kata yang menjadikan tim Dompet Dhuafa tergerak untuk membuatnya menjadi lebih berarti. Lebih menginspirasi.

Lapak Inspiratif, demikian program itu kami namakan. Sanja kecil telah menginspirasi kita semua, untuk membuka mata hati, untuk bersama-sama membantu Sanja si anak bangsa yang terabaikan mewujudkan cita-citanya.

Pasti tak mudah menjalani hidup sebagai Sanja. Menjadi pelajar sekaligus mencari “sesuap nasi” atau sekadar meringankan beban ekonomi orangtua. Sanja adalah potret anak bangsa sejati. Gigih dan tangguh! 

Sanja tak mengenal kata libur akhir pekan, tidak ada agenda bermain dalam kesehariannya, sama sekali Sanja tidak kenal itu. Dia harus berjuang keras memulung demi sesuap nasi, demi mencukupi kebutuhan keluarga dan adik-adiknya. 

Tapi kami melihat jelas, ada bakat terpendam yang memancar dari diri seorang Sanja.  Sanja adalah calon pemimpin masa depan. Di senja itu, mata kami menyaksikan seorang Sanja memimpin kawan-kawannya untuk bentemu dengan tim Dompet Dhuafa Banten.

Dalam keseharian pun demikian, sekitar 20 anak-anak berkumpul di lapak rongsokan yang kini telah menjelma menjadi Lapak Inspiratif berada di bawah komando Sanja. Dia telah bertindak sebagai koordinator, Sanja memainkan perannya sebagai leader dengan baik. Ah, saya lebih suka menyebutnya “Kepala Suku Lapak”, Kepala Suku yang hebat dan menginspirasi!

Satu adegan yang terekam di benak saya,  ketika anak-anak yang lain mau membuka kardus bingkisan DD Banten, dengan bijak  Sanja mengatakan bahwa bingkisan itu tidak untuk dibagikan saat itu. Sanja yang bijak paham, bahwa di lapak dia memiliki pemimpin yang tak boleh dia langkahi. Mereka memiliki Ibu Nia. 

Ya, Sanja telah mempertontonkan sebuah tindakan hebat di hadapan kami. Kekaguman saya semakin berlipatganda melihat teman-temannya pun senang dan mengikuti komando sang jendral kecil, Sanja. Sanja  telah menunjukkan perilaku organisasi.

Mari kita semua bantu Sanja yang sedang berjuang merajut cita-citanya. Saya, secara pribadi, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Mukhlis, donatur Dompet Dhuafa Banten yang begitu mendukung program Lapak Inspiratif.

Penasaran saya pun sama dengan penasaran Pak Mukhlis, ah, saya lebih suka menyebutnya penantian dalam keoptimisan. “Kita lihat nanti, Sanja dan kawan-kawannya sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang,” ujar Pak Mukhlis ketika saya bicara tentang kehidupan Sanja dengan beliau di suatu sudut siang. Kalimat bermuatan nada optimis itu selalu saya ingat, terngiang-ngiang di kepala. Sanja, terima kasih telah menginspirasi kami. [*]


Penulis : Zamaksyari (Manager Fundraising Dompet Dhuafa Banten)
Editor : Setiawan Chogah

0 komentar:

Posting Komentar

Berita Terbaru