Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2015

Surat Aneh Kepada Dompet Dhuafa

Diposting pada label:

Ahmad Juwaini, Prsiden Direktur Dompet Dhuafa Filatropi saat berdiskusi dengan amil DD Banten.
BEBERAPA tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD.

Pada umumnya, surat permohonan bantuan itu isinya agak panjang, berhubung hendak menceritakan masalah dan mengajukan bantuan. Tidak sedikit dari surat-surat itu yang ditulis panjang lebar dengan narasi yang memilukan.

Tapi hari itu, datang sebuah surat yang tidak biasanya. Setelah dibuka, isinya ternyata hanya satu kalimat saja. Kalimat itu berbunyi, "Jika diizinkan, saya akan datang ke kantor Dompet Dhuafa. Kita semua yang membacanya tentu merasa heran terhadap surat ini."

Sepanjang sejarah DD, belum pernah ada surat yang isinya seperti itu. Karena itu kemudian, kita segera membalas surat itu dengan jawaban, "Silakan Bapak datang ke kantor Dompet Dhuafa, Pada hari (tertentu), jam (tertentu)."

Pada hari dan jam yang dijanjikan, kita telah menanti tamu yang akan datang. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki dengan perawakan pendek dan agak kurus. Kedua tangannya (maaf) putus dari pangkal lengan, dan kedua kakinya seperti pernah mengalami sakit polio (dengan bentuk sedikit agak melengkung).

Menyaksikan kehadiran lelaki tersebut, segeralah kita mengerti mengapa lelaki tersebut menulis surat seperti itu. Rupanya, dia ingin kita melihat saja secara langsung kondisi dirinya. Batinnya mungkin berkata, tak perlulah saya menceritakan panjang lebar, cukuplah Anda lihat sendiri, barulah Anda mengerti apa yang saya maksudkan.

Melihat kehadiran lelaki tersebut dan mengerti kondisi yang dialami oleh lelaki tersebut, kami pun bergegas menawarkan bantuan kepada beliau. Salah seorang karyawan DD kemudian berkata, "Pak, apa yang bisa DD lakukan, untuk bisa membantu Bapak?" Lelaki tersebut kemudian menjawab, "Saya mohon DD membantu saya satusaja, mohon DD membelikan saya satu buah mesin ketik."

Mendengar ungkapan bahwa lelaki itu ingin dibelikan mesin ketik, karyawan DD pun bertanya lagi, "Mohon maaf Bapak, apakah anak Bapak ada yang sedang ditugasi menulis paper atau makalah, seperti itu?" Lelaki itu pun menjawab lagi, "Oh, bukan, mesin ketik itu bukan untuk anak saya, tapi untuk saya, saya biasa mengetik kok mendengar jawaban tersebut."

Karyawan DD pun terperanjat, sehingga terucap, "Mengetik dengan...." Spontan lelaki itu pun menjawab, "Saya biasa mengetik dengan kaki saya."

Seterusnya lelaki itu pun melanjutkan, "Kalau Bapak berjalan-jalan di kawasan Pasar Senen, di sana akan terlihat banyak kios-kios jasa mengetik, salah satunya adalah kios saya. Saya biasa melayani jasa mengetik. Cuma selama ini mesin ketiknya punya toke saya. Sehingga hasilnya dibagi dua. Saya bermimpi, jika saya punya mesin ketik sendiri, mungkin hasilnya jadi lebih besar."

Mendengar penuturan lelaki itu, tiba-tiba saja terasa ada pukulan keras menghantam ulu hati kita yang mendengarnya. Bagaimana tidak, ada seorang lelaki yang mengalami cacat fisik, yang sesungguhnya teramat pantas dikasihani dan disantuni setiap saat, akan tetapi ternyata yang diharapkannya justru adalah bantuan yang membuatnya bisa tetap berusaha dan produktif.

Lelaki itu bukan ingin dibantu sehingga tergantung pada belas kasihan orang lain, tetapi justru ingin dibantu yang membuatnya mandiri dan tegak di atas kekuatannya sendiri.

Lelaki itu laksana malaikat yang dihadirkan kepada kita untuk menyampaikan pesan agar kita lebih menghargai diri kita dengan berusaha menjadi manusia yang produktif dan mandiri. Karena pada zaman sekarang ini, betapa banyak anak muda, fisiknya utuh, tubuhnya sehat dan kuat, tetapi jiwanya lemah dengan ingin dikasihani dan mengharap iba dari orang lain.

Betapa banyak manusia di dunia ini, yang kondisi fisiknya jauh lebih baik dari bapak tersebut, tetapi hidupnya ingin bergantung kepada belas kasihan dan santunan orang lain.

Kepada bapak tersebut, DD akhirnya membelikan satu buah mesin ketik baru, sambil dalam hati berucap, Terima kasih, Bapak, telah datang dan seolah menasihati kami, sungguh kehadiran Bapak telah membawa kesan mendalam untuk kami.

* Ditulis oleh Ahmad Juwaini, Presiden Direktur Dompet Dhuafa Filantropi

Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten01.34

Jumat, 31 Oktober 2014

Rajin Sedekah, Rezeki Melimpah

Diposting pada label:

Oleh M Husnaini
(Penulis Buku “Menemukan Bahagia: Mengarifi Kehidupan Menuju Rida Tuhan”)

Keuntungan sedekah tidak dapat dihitung dengan rumus matematika konvensional. Yusuf Mansur memopulerkan istilah matematika sedekah. Mengacu kepada ajaran Islam bahwa sedekah satu akan dilipatkan menjadi sepuluh, Yusuf Mansur kemudian membuat rumus demikian: sepuluh ribu dikurangi seribu untuk sedekah, hasilnya adalah sembilan belas ribu. Jika dikurangi dua ribu untuk sedekah, hasilnya menjadi dua puluh delapan ribu.

Itulah rumus matematika sedekah, yang merupakan perasan dari sejumlah keterangan dalam Alquran dan hadis. Allah sendiri berulang kali menegaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Dalam pandangan awam, harta memang berkurang ketika dipakai untuk sedekah. Tetapi, dalam kaca mata iman tidaklah demikian.

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri, dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah, dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dirugikan.” [QS Al-Baqarah/2: 272].

Perhatikan, ayat di atas menggarisbawahi “harta yang baik” dan “di jalan Allah”. Karena, sangat boleh jadi orang melakukan sedekah tetapi dengan harta yang tidak baik. Misalnya, membangun masjid dari praktik korupsi, mendirikan pesantren dari hasil pelacuran, membantu panti asuhan dari bisnis narkoba, dan seterusnya. Tidak sedikit pula orang yang mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk menyukseskan perbuatan atau kegiatan yang tidak baik. Lihatlah para konglomerat yang rela merogoh kocek miliaran rupiah untuk menyelenggarakan pagelaran Miss World, kandidat pemimpin yang mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membeli suara, tersangka hukum yang memberikan gratifikasi triliunan rupiah untuk menyuap hakim, dan seterusnya.

Harta tidak baik yang digunakan di jalan Allah dan harta baik yang digunakan di jalan setan, keduanya tidak bernilai sedekah di mata Allah. Sedekah harus memenuhi dua kriteria, sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas, yaitu harta baik yang disalurkan di jalan Allah. Itulah harta yang tidak sia-sia, karena Allah akan memberikan ganti secara berlipat ganda.

Janji Allah tidak pernah dusta. Kewajiban orang beriman adalah meyakininya dengan segenap hati. Rasulullah sendiri pernah menginformasikan, “Tiada sehari pun sekalian hamba memasuki suatu pagi, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya’. Sementara yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya’.” [HR Bukhari dan Muslim].

Mengelola harta memang bukan perkara mudah. Harta kerap mendatangkan keberuntungan, tetapi, jika salah menggunakan, harta justru menghasilkan kebuntungan. Karena itu, Islam memberikan panduan lengkap seputar cara mengelola harta agar kepemilikan harta berujung keberuntungan, bukan kebuntungan. Salah satunya adalah lewat ajaran sedekah. Harta yang disedekahkan, itulah harta yang sebenarnya, karena akan kekal sampai di alam baka. Yang berada di tangan tidak lain akan menjadi hak ahli waris.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bertanya, “Siapakah di antara kamu yang lebih menyukai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?” Serentak para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, tiada seorang pun dari kami, melainkan hartanya adalah lebih dicintainya.” Beliau kemudian bersabda, “Sungguh harta sendiri ialah apa yang telah terdahulu digunakannya, sedangkan harta ahli warisnya adalah segala yang ditinggalkannya (setelah dia mati).” [HR Bukhari dan Muslim].

Hadis di atas, dengan demikian, secara tidak langsung mengingatkan bahwa harta yang ada di tangan kita sebenarnya hanya titipan Allah. Supaya manfaatnya masih dapat dirasakan sampai kita kembali ke akhirat, maka harta itu harus dinafkahkan di jalan kebaikan semasih hidup di dunia. Lebih membahagiakan, balasan Allah bahkan sering tidak harus menunggu di akhirat, tetapi langsung Dia tunaikan ketika kita masih hidup di dunia berupa rezeki yang melimpah.

Rezeki adalah segala pemberian Allah untuk memelihara kehidupan. Dalam hidup, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu Rezeki Kasbi (bersifat usaha) dan Rezeki Wahbi (hadiah). Rezeki Kasbi diperoleh lewat usaha dan kerja. Tetapi Rezeki Wahbi datangnya di luar prediksi manusia, kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Karena Rezeki Wahbi merupakan wujud sifat rahim Allah, maka orang yang gemar melakukan sedekah sangat berpeluang mendapatkan rezeki jenis terakhir ini. Indah Allah melukiskan dalam Alquran.

“Permisalan (nafkah yang dikeluarkan) orang-orang yang menafkahkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS Al-Baqarah/2: 261].

Sangat banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah yang mengungkap keuntungan sedekah. Setiap kita berpeluang mendapatkan keuntungan itu sepanjang gemar melakukan sedekah disertai keyakinan mantap terhadap kemurahan Allah. Tidak ada ceritanya kemiskinan karena sedekah. Tidak pula orang membuka pintu permintaan, melainkan Allah membuka untuknya pintu kemiskinan.

Sebab itu, jangan lagi berusaha menotal keuntungan sedekah dengan rumus matematika seperti umumnya kita menotal hasil keuntungan perdagangan atau penjualan barang-barang kita. [*]
Sumber: Republika


Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten00.56

Kamis, 30 Oktober 2014

Simulasi Perhitungan Zakat Penghasilan

Diposting pada label: ,


Sahabat, berikut kami berikan simulasi perhitungan zakat penghasilan:

Usman adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di Serang. Ia mempunyai seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Penghasilan per bulannya adalah Rp 5.000.000

Maka penjelasan perhitungan zakat penghasilan yang wajib ditunaikan oleh Usman adalah sebagai berikut:


Diketahui:
1. Pendapatan gaji per bulan Rp 5.000.000
2. Nishab (batas harta wajib zakat) 522 kg beras @Rp 7.000 = Rp 3.654.000 (Nilai Rp 7.000 bersifat relatif, tergantung harga beras per kilogram saat mengeluarkan zakat). Karena pendapatan Usman setiap bulannya mencapai nishab yang ditetapkan, maka Usman wajib mengelurkan zakat penghasilannya.

3. Rumus zakat = (2,5% x besar gaji per bulan)
4. Zakat yang harus ditunaikan adalah sebesar 2,5% x Rp 5.000.000 = Rp 125.000

Zakat penghasilan juga bisa diakumulasikan dalam satu tahun. Caranya, jumlah pendapatan berikut bonus dan lainnya dikalikan satu tahun kemudian apabila hasilnya mencapai nishab, selanjutnya dikalikan dengan kadar zakat.

Semoga bermanfaat. 

[Setiawan Chogah]


Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten21.12

Selasa, 16 September 2014

Belajar dari Nabi Ibrahim

Diposting pada label:



“Kalau memang demikian, maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami.” Begitulah jawaban Hajar ketika mengetahui bahwa Ibrahim meninggalkan ia dan Ismail di tengah padang pasir yang tiada apapun adalah perintah Allah. Kala itu Ismail masih dalam masa menyusui. Betapa bagaimana perasaannya, ketika anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya telah datang, Ibrahim diminta untuk membawa anak dan istrinya di tengah padang pasir yang panas kemudian meninggalkannya. Tetapi keyakinannya terhadap perintah Allah mengalahkan ujian yang mereka hadapi. Dan benar saja, setelah Hajar berlari-lari dari bukit shofa ke bukit marwa untuk mencari air, maka Allah melalui malaikatnya mengucurkan air zam-zam.

Ketika Ismail tumbuh besar, belum cukup cobaan Ibrahim. Beliau diperintahkan Allah untuk menyembelih anak kandung yang sangat disayangnya. Setan berusaha untuk meruntuhkan keyakinannya, tetapi sang anak yang mau disembelih justru menguatkan dan meyakinkannya. Pada akhirnya Ismail digantikan oleh Allah dengan domba dan dari situ muncul perintah berkurban bagi umat muslim. Begitulah nabi kita Ibrahim dan istrinya Hajar serta anaknya Ismail mengajarkan kepada generasi penerusnya akan nilai-nilai pengorbanan dan keyakinannya terhadap Allah secara totalitas.

Bagaimana bila kita menyikapi semua perintah Allah dengan keyakinan “Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami”? Hanya satu, kita akan sangat totalitas dan penuh pengorbanan dalam menjalankannya. Diperintahkan shalat maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan, diperintahkan puasa maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan, diperintahkan zakat maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan, diperintahkan sedekah maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan, dan diperintahkan menyembelih hewan kurban maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak menjalankan perintah Allah. Sudah tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan kita terhadap apa yang Ia perintahkan kepada makhluknya. Allah telah memberikan contoh yang ekstrim melalui nabi Ibrahim agar kita betul-betul berusaha menjalankan perintah Allah semampu mungkin dan tidak mudah mengeluh terhadap segala ujian yang menimpa. [*]

Penulis: Imam Baihaqi

Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten18.44

Minggu, 07 September 2014

Tebar Hewan Kurban Plus Sedekah Ikan Bersama Dompet Dhuafa Banten

Diposting pada label: , ,


Kurbanku untuk-Mu Semata, menjadi tema nasional dalam program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa tahun 1435 H / 2014 M. Dengan semangat membangun kesadaran bahwa kurban merupakan ibadah yang memiliki keutamaan ganda yakni secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal (hamblum minna Allah) ibadah kurban merupakan sarana dalam mendekatkan diri pada Allah Swt. serta menjalankan syiar Islam. Hal ini tertuang dalam Quran surah Al Kautsar ayat 2 yang artinya “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah.”, dan seperti termaktub dalam Quran surah Al Hajj ayat 36 Artinya, “Dan kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah.”.

Lalu keutamaan ibadah kurban yang kedua adalah secara horizontal (hamblum minna naas), yakni menjalankan ajaran agama dalam bentuk kepedulian sosial, dimana dalam prosesnya kurban menyatukan rasa antara si kaya dan si miskin, dalam proses penyembelihan hingga distribusinya ada unsur kebersamaan di dalamnya. Selain itu daging hewan kurban wajib di bagikan pada orang lain yang secara tidak langsung hal ini mengajarkan kepada kita sekalian untuk turut serta menyembelih kesombongan, keegoaan, dan ketamakan.

Paradigma di atas sesungguhnya menjadi motivasi besar bagi para pekurban. Sehingga kurban bukan lagi menjadi “arena” dalam meningkatkan status sosial, gengsi, dan prestise.

Memadukan dua nilai di atas, akhirnya Dompet Dhuafa Banten tahun ini mencanangkan program Tebar Hewan Kurban Plus (THK +).

Konsepnya tetap pada niatan awalnya program ini di gulirkan sejak tahun 1994, yakni ingin membagi hewan kurban ke daerah-daerah terpencil, terbelakang, rawan gizi, marginal, perbatasan, dan daerah yang terkena bencana di penjuru Indonesia serta agar kelezatan daging kurban tidak hanya menumpuk pada masyarakat kota. Konsep inilah yang menjadi kelebihan dalam program ini sehingga kebermanfaatnya jauh lebih besar dirasakan khususnya bagi kaum dhuafa yang jarang mengonsumsi daging.

Lalu apa maksud plus dalam program THK Dompet Dhuafa Banten tahun ini? Awalnya kami memiliki program Sebar Zakat, dimana amil Dompet Dhuafa secara door to door mengetuk pintu-pintu rumah kaum dhuafa untuk menyalurkan titipan zakat para donatur. Pesantren biasanya menjadi mitra kami dalam program tersebut untuk membantu mencarikan mustahik atau turut bersama kami mendistribusikan dana ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf). Dalam proses interaksi itulah akhirnya kami dapat mengetahui bagaimana situasi dan kondisi pesantren pada umumnya yang ada di Banten. Sampai kami mencatat bahwa biaya operasional untuk makan santri di pesantren cukup besar setiap harinya, terlebih jika harus menyediakaan konsumsi bergizi baik dan beragam serta seimbang. Sehingga makan dengan menu bergizi dengan kandungan protein yang cukup menjadi hal yang jarang dirasakan. 

Akhirnya, kami merancang sebuah program yang kami namakan Sedekah Ikan. Program ini diperuntukkan bagi santri di pesantren mitra Dompet Dhuafa Banten. Kolam-kolam ikan yang ada di pesantren ini akan diisi dengan bibit ikan yang dikelola oleh sekelompok santri. Bibit ikan yang akan diberikan adalah spesies lele dan ikan nila, dimana kedua jenis ikan ini cukup menjadi primadona di pasaran, serta memiliki masa panen yang relatif cepat yaitu berkisar antara 3-4 bulan sudah dapat dipanen. Hasil panen ikan ini akan dinikmati oleh santri guna memenuhi kebutuhannya selama belajar di pesantren, dan program Sedekah Ikan juga menjadi sarana belajar dan memupuk semangat enterpreuneurship pada santri sejak dini. 

Melalui program THK + Sedekah Ikan inilah Dompet Dhuafa Banten mengajak para donatur tidak sekadar menjalankan perintah Allah Swt., akan tetapi lebih dari itu pun memiliki kelebihan lain yakni menebarkan manfaat yang berlipat khususnya bagi kaum dhuafa. 

Akhirnya, ibadah kurban semestinya harus menjadi agenda tahunan dari setiap keluarga muslim dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Swt. Yakinilah bahwa biaya atau uang kurban yang kita belanjakan Allah Swt. akan menggantinya dengan ganti yang jauh lebih baik. Ingatlah bahwa setiap pagi Allah Swt. mengutus dua malaikat yang satu berdo’a, “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak”. Dan malaikat kedua berdo’a, “Yaa Allah berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (H.R. Buhkari 1374 & Muslim 1010).

Dan dalam hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda, “Tiada sedekah uang yang lebih mulia dari yang dibelanjakan untuk kurban di Hari Raya Adha.” (H.R. DaruQutni). Selamat menjalankan ibadah Kurban 1435 H, semoga Allah Swt. menerima ibadah kurban kita semua. Amiin. [*]


Penulis: Abdurrahman Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten
Editor: Setiawan Chogah


Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten22.30

Rabu, 06 Agustus 2014

Sabar dan Tak Mengeluh, Kunci Sumiati Bertahan

Diposting pada label:

SEJATINYA cobaan hidup selalu menghampiri setiap manusia. Kira-kira tahun 2011, ungkapan tersebut turut dirasakan Rumiati (41) dan keluarga. Sang suami yang bekerja di sebuah percetakan di bilangan Jakarta, harus mendekam di penjara atas tuduhan mencetak cukai rokok.

“Saya yakin suami saya nggak bersalah. Pasti ada yang memfitnah suami saya,” ujar ibu beranak dua ini.

Permasalahan yang menimpa sang suami membuat mental Rumiati goyah. Ia hampir putus asa dengan kondisi yang menimpa keluarganya. Terbesit dalam pikiran dan hatinya, ia hendak meminjam dana ke renternir untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Seperti dana besar untuk biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidup, dan lain sebagainya terus membayang dalam benaknya.

“Hampir saya terjerat lintah darat, tapi alhamdulillah Allah masih melindungi saya,” terang perempuan asal Semarang, Jawa Tengah ini.

Rumi, demikian sapaan akrabnya sehari-hari bercerita, saat sang suami masih bekerja, penghasilan yang diterima setiap bulannya sangatlah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian uang hasil jerih payah sang suami dapat ditabungnya untuk kebutuhan masa depan sang anak.

“Penghasilan suami saya sekitar Rp 2,2 juta per bulannya. Itu dulu saat masih bekerja,” kenang Rumi, seraya menghela nafas.

Kini, ia ikhlaskan sang suami menjalani masa hukuman dan saat-saat itulah yang menjadi masa-masa sulit bagi Rumi dan kedua anaknya. Meski demikian, ia berusaha terus sabar dan tegar. Keluh kesahnya ia curahkan dalam setiap do’a dan ia juga tidak mau terus mengeluh atas apa yang menimpanya.

Hidup pasti terus berjalan, demikian semangat yang terus tertanam di hati Rumi. Dengan modal tabungan hasil jerih payah sang suami dulu, ia memutuskan untuk membuka usaha warung sembako.

Niat Rumi membuka usaha warung sembako nampaknya tidak sia-sia. Kedua anaknya pun tidak segan membantu ibunya membuka dan menutup warung hingga menemaninya untuk berbelanja barang dagangannya. Dengan modal usaha seadanya, Rumi pun harus pandai membagi modal dan keuntungan usahanya.

“Modal saya buat buka warung sembako emang pas-pasan. Makanya saya butuh modal lagi buat perbanyak jenis dagangan,” ucap perempuan yang tinggal di kawasan Cireunde, Ciputat, Tangerang Selatan ini.

Alhamdulillah, di saat Rumi dan keluarga membutuhkan modal usaha untuk warung sembako yang sedang dirintisnya, ia mendapat tawaran pinjaman dari Social Trust Fund (STF) Dompet Dhuafa wilayah Tangerang Selatan sebesar Rp 750 ribu.

STF sendiri merupakan program ekonomi Dompet Dhuafa yang memainkan peran sebagai bank orang miskin. Transaksi dominan yang dikembangkan adalah berbasis pada akad dana kebajikan (Qardhul Hasan), yakni meminjam dengan pengembalian tanpa tambahan bunga maupun bagi hasil.

Rumi menuturkan, dengan pinjaman modal usaha dari STF Dompet Dhuafa, kini ia mampu memperbanyak jenis dagangan di warung sembakonya, seperti beras, telur, minyak, makanan ringan, minuman dingin, dan lain sebagainya.

’’Alhamdulillah saya bersyukur Dompet Dhuafa telah membantu memajukan usaha saya,” ucapnya bersyukur.

Pinjaman tanpa bunga itu ia jaga betul kepercayaannya. Hingga saat ini ia mampu terus mengangsur dana pinjamannya yang kini memasuki pinjaman kedua sebesar Rp 2 juta.

Dengan kesabaran dan kegigihan yang ditunjukkannya, kini Rumiati berhasil melewati ujian yang ia anggap besar dan berat dalam hidupnya ini. “Sabar dan jangan mengeluh, itu rahasia saya dalam melewati ini semua,” pesannya. [uyang]
 

Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten20.18

Senin, 07 Juli 2014

Keutamaan Infak dan Sedekah

Diposting pada label:

 
INFAK di jalan Allah merupakan buah dari keimanan kepada Allah Swt. dan menjadi tanda keyakinan yang dalam pada-Nya. Karena Dialah yang memberi kehidupan, kekayaan, kemampuan dan bimbingan.

Pribadi seorang muslim menjadi istimewa karena kedermawanannya. Yang dalam mendermakan hartanya bukan karena mencari popularitas atau riya’, tetapi karena Allah dan didorong oleh potensinya yang telah dikaruniakan oleh-Nya.

Al-Qur’an banyak sekali membicarakan infak dan sedekah. Tujuannya adalah untuk kemaslahatan sosial. Al-Qur’an banyak membicarakan tentang pentingnya infak dan sedekah. Dari penjelasan-penjelasannya menunjukkan bahwa infak merupakan manifestasi keimanan kepada Allah Swt. dan hari Akhir.

Ikhlas dalam Berinfak

Allah Swt. yang memberi kehidupan dan kenikmatan, dan Dia menyuruh kita mengeluarkan sebagian rezeki yang telah dikaruniakan kepada kita. Dia berjanji akan menggantinya dengan berlipat-ganda. Dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan infak dan sedekah, Dia mengumpamakan seperti sebutir bibit yang ditanam di bumi dan selalu tumbuh. Bahkan dari bibit itu juga yang berulang-ulang tumbuh dan kita makan.

Sebutir bibit yang kita simpan dan kita tanam di bumi, ia selalu tumbuh sehingga menjadi ratusan bibit. Itulah ciptaan Allah Swt. dan itulah yang diambil dari harta kita dengan kadar tertentu kemudian kita infakkan di jalan-Nya dan kita sedekahkan pada hamba-hamba-Nya, lalu Dia melipat-gandakan untuk kita. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Swt.:

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir bibit yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir: seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 261)

Infak di jalan Allah Swt. yang kita harapkan buahnya di dunia dan akhirat, tidak menutup kemungkinan buahnya rusak dan busuk jika kita tidak memeliharanya dari berbagai penyakit dan hama. Tentu seorang mukmin akan selalu memelihara bibitnya agar berbuah, ia tidak akan mengikuti infaknya dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menyakiti perasaan penerimanya, tidak untuk mencari popuparitas dan kekuasaan, tidak merasa lebih tinggi orang yang fakir, tidak memaksa orang tanpa haq, dan tidak mengambil jarak dengan orang-orang fakir. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah Swt.:

Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan penerimanya), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan dan mereka tidak bersedih hati. (Al-Baqarah: 262)

Selanjutnya Allah mempertegas syarat dalam berinfak, yaitu harus mewaspadai bahaya sifat Ammarah bis-su’ dan potensi syaithaniyah. Allah Swt. berfirman:

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al-Baqarah: 263)

Sekiranya orang kaya tidak memberikan hartanya pada orang-orang fakir, tetapi ia bisa menyatu dalam suatu majlis, menjadi satu-kesatuan, menganggap saudara, dan tidak ingin menguasai mereka. Bahkan ketika mereka berbuat kejelekan ia bersabar dan memaafkan, sikap ini lebih utama di sisi Allah ketimbang memberikan hartanya dengan tujuan menguasai mereka, merendahkan kehormatan mereka, menjadikan kelas rendahan, dan melukai perasaan mereka.

Selanjutnya Al-Qur’an menasihati kaum mukminin sekaligus mengingatkan mereka bahwa sedekah mereka bisa menguap bahkan terbakar, jika dalam bersedekah mereka ingin menguasai orang-orang fakir. Bahkan sedekah mereka tidak akan menjadi penyebab pertumbuhan hartanya, dan juga tidak akan membuahkan rahmat Allah di akhirat.

Bagaimana pandangan kita tentang orang yang menghanguskan amal kebajikannya? Ini seperti seorang petani yang mengumpulkan tanah sedikit demi sedikit di areal pegunungan, ia berharap dengan tanah itu tanamannya subur, tetapi kemudian turun hujan yang lebat sehingga tumpukan tanah yang subur hilang terkikis air hujan. Demikianlah perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya dengan ingin menguasai seperti ladang yang tandus. Inilah kandungan makna firman Allah Swt.:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerimanya), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 264)

Adapun orang-orang mukmin yang ikhlas karena Allah dalam menginfakkan hartanya, mereka akan memperoleh tiga manfaat: Ridha Allah; pensucian jiwa dan bimbingan takwa dan karunia; pertumbuhan harta dan pahala yang besar di dunia dan akhirat.

Allah Swt. berfirman:

Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya karena mencari keredhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiramnya, maka hujan gerimis (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
(Al-Baqarah: 265)

Allah Swt. mengumpamakan keinginan yang sia-sia yang akan menimpa manusia pada hari ia membutuhkan pembalasan. Keinginan yang sia-sia karena amal-amal kebajikannya telah terhapus. Allah mengungkapkan bahwa kenikmatan popularitas dan kekuasaan yang diinginkan dalam amalnya lalu diikuti dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menyakiti hati penerimanya, sikap inilah yang menghapus kebaikan amalnya seperti debu yang terhempas angin. Allah Swt. berfirman:

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; yang dalam kebun itu ada segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang ia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, maka terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Al-Baqarah: 266)

Berinfakkan dengan harta yang baik

Allah Swt. menyatakan:

Hai orang-orang yang beriman, berinfaklah sebagian yang baik-baik dari hasil usahamu dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menginfakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memejamkan mata terhadapnya. Ketahuilah, Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-Baqarah: 267)

Jika hendak berinfak, maka pilihkan apa yang paling utama dari yang kita miliki. Baik yang dalam memperolehnya dengan menguras pikiran dan tenaga seperti harta dan bangunan, atau yang tidak menguras tenaga dan pikiran seperti hasil perkebunan dan pertanian. Wal-hasil, kita harus memilih yang paling utama dari apa yang kita miliki untuk kita persembahkan kepada Allah Swt. Janganlah kita memilih yang ternoda atau busuk untuk diinfakkan di jalan Allah Swt.

Cobalah kita renungkan jika terjadi sebaliknya, kita yang fakir. Apakah kita mau menerima pemberian yang bernoda atau buah-buahan yang busuk? Sementara kita semua butuh kepada Allah Swt. Antumul fuqarâu ilallâh, kalian butuh kepada Allah.

Pengaruh Infak

Al-Qur’an mengingatkan kita agar tidak menjawab seruan setan, seruan yang dihembuskan dari dalam diri kita dengan seruan: Janganlah kalian mengeluarkan infak agar kalian tidak menjadi orang-orang yang fakir.

Setan menjanjikan kamu dengan kefakiran dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas kurnianya lagi Maha Mengetahui. Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi kebajikan yang banyak. Dan Tidak akan merenunginya kecuali ulul albab (orang-orang yang mampu mengambil pelajaran). (Al-Baqarah 268-269)

Hendaknya kita menyadari bahwa infak dapat mengefektifkan peredaran uang dan harta di antara manusia, dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Yang akhirnya semua dapat merasakan manfaatnya. Karena itu Allah menyuruh berinfak, dan memanggil kita pada yang lebih utama. Sementara setan menakut-nakti kita dengan kefakiran, agar kita menahan harta kita dan enggan berinfak, menyebarkan permusuhan, menumbuhkan perbuatan keji dan kikir. Jika demikian, bukankah infak adalah sesuatu yang paling utama, sehingga tersebarlah cinta dan kasih sayang menggantikan kedengkian dan kebencian di antara manusia.

Menahan Infak

Allah Maha Mengetahui siapa yang menahanan infak. Dia juga yang melipatpandakan harta kekayaan melalui infak, bukan manusia. Allah Swt. berfirman:

Apa saja yang kamu infakkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolong pun baginya. (Al-Baqarah: 270)

Ayat ini menjelaskan tentang penahanan infak. Selama infak itu di jalan Allah bukan dengan dengan tujuan menguasai manusia, itu baik walaupun diketahui oleh manusia, itu tidak membahayakan. Tetapi, yang demikian itu lebih utama infak ditahan dulu agar terhindar dari perangkap-perangkap hawa nafsu dan bisikan setan.

Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik. Jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah: 271)

Karena memang yang semestinya infak dilaksanakan di jalan Allah, maka pemimpin Islam atau ulama tidak lain hanya penghimpun infak untuk disalururkan kepada yang berhak. Tidak lebih dari itu, ia tidak bertanggung jawab terhadap infak orang-orang kaya, ia hanya bertanggung jawab terhadap amal perbuatan mereka, karena infak manfaat dan mudharratnya mengenai langsung diri mereka:

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk pada siapa yang dikehendaki-Nya. Apa aja harta yang baik yang kamu infakkan, maka itu untuk dirimu. Janganlah kamu berinfak kecuali karena mencari keredhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, pasti kamu akan ada pembalasannya yang cukup, dan kamu sedikit pun tidak akan dianiaya, tidak dirugikan. (Al-Baqarah: 272)

Pendistribusian Infak
Masih ada pertanyaan: Kemana kita harus mengeluarkan infak? Dan kepada siapa?

Al-Qur’an yang menjawab pertanyaan ini:

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat dalam perjuangan di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka menjaga diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 273)

Sebagai penutup, kita dilarang menyia-nyiakan harta dan waktu untuk tidak berinfak di jalan Allah, bahkan sangat dianjurkan berinfak kapan saja ada kesempatan di masyarakat:

Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak juga mereka bersedih hati. (Al-Baqarah: 274)
 
 Dari berbagai sumber


Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten19.37

Rabu, 02 Juli 2014

Khasiat Bersedekah: Ada Keuntungan yang Tidak Bisa Diberikan dari Pedang Manapun.

Diposting pada label:

Siapa yang lebih bahagia, pemberi sedekah atau penerima sedekah? Sekilas, tampak kebahagiaan hanya terpancar dari raut wajah penerima. 

Ia terlihat sumringah saat menggenggam uang sedekah dari yang memberi. 

Tak lupa, sekelumit doa dan rasa syukur dihaturkan untuk orang yang memberinya sedekah sebagai ungkapan terima kasih. Beberapa penerima, bahkan tak sungkan mencium punggung tangan orang yang telah menyisihkan hartanya untuk mereka. 

Beginilah pemandangan yang senantiasa tampak dalam setiap episode sedekah berlangsung.

Demikiankah sesungguhnya? Benarkah penerima sedekah jauh lebih berbahagia ketimbang yang bersedekah? Bukankah justru seharusnya penyedekah itu yang berbahagia? Setidaknya ada dua tingkatan tujuan sedekah bagi para penerimanya.

Pertama, diharapkan setelah menerima sedekah, mereka mencapai tingkatan berdaya. Setidaknya, dalam rentang beberapa waktu mereka tidak lagi menjadi penerima sedekah. 

Orang-orang yang biasa menerima sedekah ini, seharusnya di waktu tertentu sudah bisa memberdayakan diri mereka sendiri. Tak perlu menengadahkan tangan, meminta-minta dan berharap belas kasihan para penderma. 

Mereka tak lagi menerima sedekah karena sudah tidak membutuhkan. Meski demikian, dalam tingkatan ini mereka belum menjadi penyedekah.

Tingkatan kedua, yakni mereka berubah status dari penerima menjadi pemberi sedekah. Ini yang paling diharapkan, kalau satu tahun lalu, misalnya mereka masih menjadi penerima sedekah, seharusnya di tahun berikutnya merekalah para penyedekah yang berniat memberdayakan orang-orang yang disedekahinya. 

Karenanya, sedekah bukan sekadar menaruh uang di kotak amal atau mengumpulkan para fakir miskin, anak yatim, kemudian membagi-bagikan amplop, lantas selesai. Para penyedekah tak selesai kewajibannya hanya sampai sebatas memberi. Ada kewajiban lainnya, yakni tak membiarkan penerima sedekah menjadi orang-orang yang bergantung dengan sedekah. Jangan sampai ada orang yang “menikmati” hidup dengan pemberian orang lain. Ada kewajiban bagi para penyedekah, yakni membuat penerima sedekah itu menjadi orang-orang yang berdaya. 

Setidaknya hingga mereka sanggup mencapai tingkatan tak lagi bergantung pada sedekah dan bisa menghidupi diri dan keluarganya sendiri.

Sedekah itu tanpa batas. Nilai dan jumlahnya tidak dibatasi, penerima sedekahnya juga tidak terbatas, artinya, penyedekah bisa memberikannya kepada siapa saja, dari yang terdekat hingga terjauh sekali pun. 

Tak hanya itu, waktu untuk bersedekah pun tak pernah dibatasi, tidak hanya di bulan-bulan tertentu saja, melainkan sepanjang waktu. Selama seseorang mampu untuk bersedekah, baik di waktu sempit atau lapang.

Karena tidak pernah dibatasi jumlah yang boleh disedekahkan, maka tidak ada nisab untuk sedekah, selama ia mampu maka teruslah bersedekah. Tidak pernah ada ketentuan seseorang sudah bisa bebas tak bersedekah karena sudah terlalu sering bersedekah dan yang terpenting, tidak pernah tertulis dalam sejarah ada orang yang jatuh miskin lantaran bersedekah. 

Sebab, semua orang yang pernah dan selalu bersedekah tahu betul, bahwa sedekah membuat mereka kaya dan bahagia. Siapa yang tak bahagia berniaga dengan Allah? Kita mendapatkan modal dari Allah, berupa diri dan harta yang kita miliki saat ini. Kemudian dari modal yang dipinjamkan Allah itu, kita diajak berniaga oleh-Nya dengan tawaran keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh pedagang terbesar mana pun di dunia ini. 

Tak tanggung-tanggung, keuntungan berniaga dengan Allah adalah mendapatkan ampunan dari Allah, kemudian Allah akan memasukkan kita kedalam surga-Nya. Padahal yang diminta Allah kepada kita adalah beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya, kemudian Allah juga meminta kita berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kita. 

Bayangkan, Allah meminta kita menukar harta dan jiwa ini yang keduanya milik Allah dan hanya dipinjamkan kepada manusia dengan balasan surga-Nya. Perniagaan indah nan menguntungkan ini Allah gambarkan dalam Quran Surat Shaffat (37) ayat 10-12. 

Adakah yang mampu memberikan keuntungan lebih besar dari Allah? Tak bahagiakah orang-orang yang mau berniaga dengan Allah. Bukankah seharusnya orang-orang yang bersedekah jauh lebih bahagia, karena ia telah melakukan perniagaan dengan Allah? Sedekah itu membahagiakan. 

Tentu saja bagi yang bersedekah, sebab selain ia telah mendapatkan kesempatan mengenyam surga Allah, kebahagiaan juga bisa melihat senyum orang-orang yang mendapat sedekah. 

Tak hanya itu, sedekah masih memberikan banyak manfaat bagi pelakunya, antara lain dilipatgandakannya harta kita, dijauhkandaribahaya, diberikan kesehatan, dan tentu saja menenangkan jiwa. 

Adakah yang tak menginginkan kebahagiaan seperti itu? Sungguh, khasiat sedekah hanya satu bagi penerima. Namun terdapat jutaan khasiat yang diperoleh bagi pelakunya. Maka, bersegeralah meraihnya. (umi)

Sumber: Vivanews 
 

Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten23.33

Catatan HUT ke-21 DD: Membangun Dunia Baru dengan Zakat

Diposting pada label:

Oleh : Parni Hadi

Alhamdulillah, hari ini, 2 Juli, 2014, Dompet Dhuafa (DD) genap berusia 21 tahun. Dan, hari ulang tahun kali ini terjadi dalam bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Bulan turunnya Al Quran, yang menjadi sumber bagi lahir dan pedoman kiprah DD.

Dalam Al Quran, perintah mendirikan shalat diikuti langsung oleh perintah menunaikan zakat. Ada 27 ayat dalam Al Quran yang menyebut ini. Bagi saya, seorang pembelajar Islam, kedua perintah yang berurutan itu seperti two in one. Artinya, tidak sempurna shalat seseorang yang tidak membayar zakat. Dan, DD lahir sebagai LAZ (Lembaga Amil Zakat), yang berkiprah dalam penghimpunan dan pendistribusian zakat sesuai tuntunan Al Quran.

Ada beberapa capaian menonjol yang diraih DD dalam satu tahun terakhir. Salah satunya adalah dalam urusan zakat ini. Tepatnya, penguatan partisipasi DD dalam gerakan zakat internasional. Akhir Mei lalu, DD berperan aktif sebagai pemrakarsa konferensi World Zakat Forum di New York, AS, dengan topik Zakat for Global Welfare atau “Zakat untuk Kesejahteraan Global”.

Dalam konferensi ini sekitar 60 orang pakar, pengamat dan pengurus organisasi zakat sedunia dari sepuluh negara diundang hadir dan bicara. Mereka dari Afrika Selatan, Sudan, Albania, Bosnia, Yaman, Pakistan, India, Malaysia, Indonesia dan Amerika Serikat. Ada juga wakil dari Islamic Development Bank (IDB) dan Dr. Jeniffer Bremer, guru besar dari American University, Kairo, yang dalam presentasinya banyak menyebut DD sebagai rujukan.

Dalam konferensi itu terungkap bahwa potensi zakat umat Islam sedunia sangat besar. Dan, jika dikelola secara amanah atau profesional, zakat bisa menjadi sarana ampuh bagi kesejahteraan umat manusia sedunia. Sebagai contoh, menurut data BAZNAS, potensi zakat Indonesia per tahun kini adalah Rp 270 trilyun. Sampai sekarang yang sudah terkumpul dan dikelola oleh sejumlah lembaga amil zakat Indonesia, termasuk DD, barulah satu persen saja.

Konferensi itu menjadi ajang pertukaran informasi dan pengalaman, saling belajar dan memupuk kerjasama persaudaraan Muslim sedunia lintas bangsa. Semuanya sepakat perlunya penetapan standard profesionalisme dalam pengelolaan zakat dalam rangka penerapan sistem ekonomi syariah. Secara aklamasi, Ahmad Juwaini, Presdir DD Filantrofi, dipilih menjadi Sekjen World Zakat Forum untuk periode 2014-2017, menggantikan Ustadz Prof. DR. Didin Hafidhuddin, dengan kantor sekretariat tetap di Jakarta.

Konferensi itu diselenggarakan DD dan BAZNAS bekerjasama dengan the Nusantara Foundation, New York, pimpinan Ustadz Shamsi Ali, asal Sulawesi Selatan, yang telah berdakwah di AS selama 16 tahun.

Kemiskinan Sangat Kompleks
Sebagai orang yang dituakan, saya diberi kesempatan berbicara tentang Peran Zakat Untuk Mengurangi Kemiskinan. Berdasarkan pengalaman DD, saya sampaikan presentasi berjudul “The Role of Zakat to Reduce Poverty: A DD (Dompet Dhuafa) Way, An Indonesian Example”. Ini mengenai anatomi kemiskinan, penyebab kemiskinan dan cara-cara yang telah dicoba DD untuk mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia.

Kemiskinan atau kedhuafaan sulit didefinisikan secara singkat. Kemiskinan tidak hanya berarti tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan, sandang, pengobatan, pendidikan dan perumahan. Kemiskinan lebih dari itu, kemiskinan mempunyai banyak wajah. Bank Dunia dalam satu definisinya menyebut kemiskinan adalah ketakutan untuk hidup di suatu waktu yang akan datang. Ini menyangkut masalah mental, kultural dan spiritual, di samping ekonomi.

Salah satu pengukur kemiskinan adalah “garis kemiskinan” (poverty line), yang berbeda dari suatu negara dengan negara lain. Di AS, misalnya, seorang bujangan usia di bawah 65 tahun disebut miskin jika pendapatannya setahun kurang dari 11.940 dollar AS atau sekitar 1.000 dollar per bulan. Untuk keluarga yang terdiri dari empat orang, termasuk dua anak, garisnya adalah 23.550 dolar AS/tahun. Berdasar garis ini, dilaporkan jumah orang miskin di AS naik 15,1 persen pada tahun 2010. Di India, garis kemiskinan ada dua, yakni hidup di bawah 12 dolar AS/ bulan untuk orang kota dan 7,5 dolar AS/ bulan untuk orang desa.

Di Indonesia, garisnya adalah hidup di bawah 22 dolar/ bulan. Dengan angka itu, sekitar 32 juta orang Indonesia termasuk miskin. Jumlah kematian ibu waktu melahirkan juga menjadi ukuran kemiskinan. Indonesia harus berjuang keras untuk menurunkan angka kematian ibu menjadi 105 per 1.000 kelahiran tahun 2015 dari 307/1000 tahun 2009 untuk mencapai sasaran MDGs. Nampaknya ini sulit dicapai.

Untuk mengurangi kemiskinan, DD menempuh cara memotong lima lingkaran setan kemiskinan, yakni miskin ekonomi yang berdampak berturutan: miskin kesehatan, pendidikan, budaya dan imam dan takwa melalui tiga upaya: pemberdayaan ekonomi, pemberian pengobatan dan akses pendidikan. Ketiga upaya itu dibiayai dengan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf dengan mengamalkan apa yang saya sebut dengan Prophetic Management atau manajemen kenabian, meneladani empat perilaku mulia Rasulullah Muhammad SAW, yakni siddiq, tabligh, amanah dan fathanah.

Penyebab korupsi bermacam-macam pula. Mulai dari lahan pertanian yang sempit, tidak ada lapangan kerja, SDM yang tidak terampil dan puncaknya adalah korupsi, yang menjadi musuh nomor satu orang miskin dan harus diperangi secara tuntas dari atas sampai bawah. Sedangkan, salah satu sarana untuk membebaskan orang miskin dari lima lingkaran setan kemiskinan tadi adalah menjadikan masjid sebagai pusat keunggulan (center of excellence): spiritual, ekonomi, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan.

Konferensi itu sengaja dilangsungkan di New York yang menjadi pusat dunia, karena Markas Besar PBB ada di situ, demikian pula pusat kapitalisme. Tujuan pertamanya adalah untuk menjadikan zakat sebagai isu global. Sekalipun baru wacana, konferensi itu patut dicatat sebagai awal yang baik.

Saya teringat pidato Presiden Soekarno di Sidang Umum ke-15 PBB pada Jumat, 30 September 1960 di Markas Besar PBB yang berjudul: To Build The World Anew (Membangun Dunia Baru). Pidato itu telah membangunkan kesadaran dunia akan ketidakadilan politik dan ekonomi serta ancaman akan munculnya Perang Dunia Ketiga yang dimotori Blok Barat pimpinan AS dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.

Karena itu, ketika diminta menutup konferensi itu, saya meminjam judul pidato Bung Karno itu dengan mengubahnya sedikit menjadi To Build The World Anew with Zakat. Penutupan itu berlangsung di 42nd Street, di Manhattan, tempat kantor Nusantara Foundation, tak jauh dari Markas Besar PBB. [*]



Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten00.00

Senin, 23 Juni 2014

Cara Menghitung Zakat Penghasilan - Prof. Amin Suma

Diposting pada label:

Zakat sebagai prioritas kedua setelah bayar utang. Setiap bulannya umat Islam dianjurkan menyisihkan 2,5 persen dari penghasilan kotor untuk membersihkan hartanya. Mari simak cara menghitung zakat penghasilan di bawah ini: 

Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten21.32

Saatnya Membuka Mata Hati

Diposting pada label:



BILA SELAMA INI hati kita telah berselimut karat, sehingga nama Tuhan pun nyaris seperti hilang. Kehidupan kita selama ini telah menjauh dari segala hubungan dengan Tuhan, maka sekarang adalah waktu terbaik untuk kita membuka mata hati dengan mengingat kembali kebesaran Tuhan. Mensyukuri segala karunia-Nya yang telah menciptakan kita dengan segala kebaikan. Tuhan telah menjadikan kita dari seorang bayi yang sangat lemah dalam kandungan menjadi seorang manusia yang sehat, kuat dan memiliki banyak kelebihan. Sudah sepantasnya jika dalam kehidupan ini kita banyak bersyukur dengan mengabdi kepada Tuhan.

Bila selama ini karena segala kesibukan kita, orang tua kita terasa terlupakan. Pengorbanan orangtua kita yang telah membesarkan dan mendidik kita, dari mulai kecil sampai dewasa, terasa seperti tak berbekas, kini saatnya kita membuka mata hati. Ini adalah waktu terbaik untuk kita merajut kembali hubungan dengan orangtua kita. Saatnya kita bersimpuh dan merangkai bakti kepada kedua orangtua kita. Kita jadikan bakti kita kepada kedua orangtua, sebagai balas budi atas kebaikan mereka. Kita pun hendaknya senantiasa berusaha untuk membahagiakan orangtua kita. Meskipun tidak mungkin membalas semua kebaikan orangtua, tapi setidaknya kita telah berusaha berbakti kepada mereka.

Bila selama ini banyak perilaku kita telah menyakiti orang lain, entah karena sebab perbedaan kelompok, organisasi, atau karena persaingan, kini saatnya kita untuk membuka mata hati. Kita harus menyadari bahwa kita semua adalah sesama manusia yang menghendaki kebahagiaan dalam hidup ini. Alangkah mulianya jika kita meminta maaf atas kesalahan karena telah menyakiti orang lain. Sudah seharusnya kita menghilangkan pertentangan dan permusuhan yang ada, untuk menguatkan kebersamaan dan persaudaraan. Kita kuatkan jalinan persahabatan untuk meningkatkan karya yang memberi manfaat bagi masyarakat luas. Musuh satu rasanya sudah terlalu banyak, kawan seribu rasanya masih terasa kurang.

Cobalah kita melihat sekeliling kita. Betapa banyak sesama anak negeri yang belum beruntung nasibnya. Meski mereka sama-sama pemilik negeri ini, tapi mereka belum menikmati kesejahteraan. Mereka masih belum menikmati buah kemerdekaan dan pembangunan. Hidup mereka masih diliput kemiskinan dan kesengsaraan. Sudah seharusnya kita ikut memperhatikan nasib mereka. Kita buka mata hati kita dengan peduli akan nasib mereka. Sisihkan sebagian kepedulian kita untuk membantu sesama. Mari bantu mereka dengan apa yang mungkin kita bisa berikan. Setiap perhatian dan kepedulian kita akan sangat berarti bagi mereka. Saatnya bagi mereka untuk hidup lebih baik melalui perhatian dan bantuan kita.

Jika sebelum ini, kita lebih banyak menggunakan mata fisik (mata yang ada di wajah kita) untuk melihat, tiba saatnya kini kita menggunakan mata hati kita untuk memandang. Mata fisik bersifat formal dan permukaan, sedangkan mata hati bersifat batin dan mendalam. Mata hati kita dapat mendengar bahasa kalbu yang tak terlihat secara kasat. Mata hati kita akan mampu menyelami perasaan orang-orang yang terpuruk dalam kehidupan. Mata hati kita akan mampu bersimpati terhadap derita sesama. Mata hati kita akan membangunkan empati terhadap sebagian saudara kita yang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Seandainya mata hati kita telah dibuka dengan baik, maka yang kita lihat bukan hanya jasad ragawi dari manusia yang ada di sekitar kita, tetapi juga gurat pilu dan rintih derita yang dirasakan oleh mereka. Kini, saatnya kita untuk membuka mata hati.

Penulis: Ahmad Juwaini, Presiden Direktur Dompet Dhuafa
Editor: Setiawan Chogah 


Diposting oleh Dompet Dhuafa Banten01.15

Berita Terbaru